Selasa, 01 November 2011

KEPEMIMPINAN



PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan adalah "melakukanya dalam kerja" dengan praktik seperti pemagangan pada seorang senima ahli, pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang ahli diharapkan sebagai bagian dari peranya memberikan pengajaran/instruksi.

TIPE-TIPE KEPEMIMPINANA.
Daniel Goleman, ahli di bidang EQ, melakukan penelitian tentang tipe - tipe kepemimpinan  dan  menemukan  ada  6  (enam) tipe  kepemimpinan.Penelitian itumembuktikan pengaruh dari masing-masing tipe terhadap iklim kerja perusahaan,kelompok, divisi serta prestasi keuangan perusahaan. Namun hasil penelitian itu juga menunjukkan, hasil kepemimpinan yang terbaik tidak dihasilkan dari satu macam tipe.Yang paling baik justru jika seorang pemimpin dapat mengkombinasikan beberapa tipetersebut secara fleksibel dalam suatu waktu tertentu dan yang sesuai dengan bisnis yang  
sedang dijalankan. Memang, hanya sedikit jumlah pemimpin yang memiliki enam tipetersebut dalam diri mereka. Pada umumnya hanya memiliki 2 (dua) atau beberapa saja.Penelitian yang dilakukan terhadap para pemimpin tersebut juga menghasilkan data, bahwa pemimpin yang paling berprestasi ternyata menilai diri mereka memilikikecerdasan emosional yang lebih rendah dari yang sebenarnya. Pada umumnya merekamenilai bahwa dirinya hanya memiliki satu atau dua kemampuan kecerdasan emosional.

Dalam setiap realitasnya bahwa pemimpin dalam melaksanakan proseskepemimpinannya terjadi adanya suatu permbedaan antara pemimpin yang satu denganyang lainnya, hal ini sebagaimana menurut G. R. Terry yang dikutif Maman Ukas, bahwa pendapatnya membagi tipe-tipe kepemimpinan menjadi 6, yaitu :1.Tipe kepemimpinan pribadi (personal leadership). Dalam system kepemimpinan ini,segala sesuatu tindakan itu dilakukan dengan mengadakan kontak pribadi. Petunjuk itu dilakukan secara lisan atau langsung dilakukan secara pribadi oleh pemimpin yang bersangkutan.2.Tipe kepemimpinan non pribadi (non personal leadership). Segala sesuatukebijaksanaan yang dilaksanakan melalui bawahan-bawahan atau media non pribadi baik rencana atau perintah juga pengawasan.3.
Tipe kepemimpinan otoriter (autoritotian leadership). Pemimpin otoriter biasanya bekerja keras, sungguh-sungguh, teliti dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan- peraturan yang berlaku secara ketat dan instruksi-instruksinya harus ditaati.4.Tipe kepemimpinan demokratis (democratis leadership). Pemimpin yang demokratismenganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sama dengankelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang terlaksananya tujuan bersama.Agar setiap anggota turut bertanggung jawab, maka seluruh anggota ikut serta dalamsegala kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan, dan penilaian. Setiapanggota dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usahan pencapaian tujuan.5.Tipe kepemimpinan paternalistis (paternalistis leadership). Kepemimpinan inidicirikan oleh suatu pengaruh yang bersifat kebapakan dalam hubungan pemimpindan kelompok. Tujuannya adalah untuk melindungi dan untuk memberikan arahseperti halnya seorang bapak kepada anaknya.6.Tipe kepemimpinan menurut bakat (indogenious leadership). Biasanya timbul darikelompok orang-orang yang informal di mana mungkin mereka berlatih denganadanya system kompetisi, sehingga bisa menimbulkan klik-klik dari kelompok yang bersangkutan dan biasanya akan muncul pemimpin yang mempunyai kelemahan diantara yang ada dalam kelempok tersebut menurut bidang keahliannya di mana ia ikur  berkecimpung.

Selanjutnya menurut Kurt Lewin yang dikutif oleh Maman Ukas mengemukakan tipe-tipe kepemimpinan menjadi tiga bagian, yaitu :1.
Otokratis,
pemimpin yang demikian bekerja kerang, sungguh-sungguh, teliti dantertib. Ia bekerja menurut peraturan yang berlaku dengan ketat dan instruksi-instruksinya harus ditaati.2.
Demokratis,
pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian darikelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggung jawabtentang pelaksanaan tujuannya. Agar setiap anggota turut serta dalam setiap kegiatan-kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan dan penilaian. Setiap anggotadianggap sebagai potensi yang berharga dalam usaha pencapaian tujuan yangdiinginkan.3.
Laissezfaire,
pemimpin yang bertipe demikian, segera setelah tujuan diterangkan pada bawahannya, untuk menyerahkan sepenuhnya pada para bawahannya untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Ia hanya akanmenerima laporan-laporan hasilnya dengan tidak terlampau turut campur tangan atautidak terlalu mau ambil inisiatif, semua pekerjaan itu tergantung pada inisiatif dan prakarsa dari para bawahannya, sehingga dengan demikian dianggap cukup dapatmemberikan kesempatan pada para bawahannya bekerja bebas tanpa kekangan

Dalam suatu organisasi ada beberapa tipe-tipe pemimpin yang dimiliki seseorang yangdapat mempengaruhinya dalam menjalankan organisasi, antara lain sebagai berikut :1. Tipe Otokratik Seorang pemimpin yang memiliki tipe kepemimpinan otokratik dipandang sebagaikarakteristik yang negatif. Hal ini dilihat dari sifatnya dalam menjalankankepemimpinannya sangat egois dan otoriter, sehingga kesan yang dimunculkan dalamkarakter tipe kepemimpinan ini selalu menonjolkan “keakuannya”

2. Tipe Paternalistik Tipe pemimpin paternalistik ini bersifat kebapaan yang mengembangkan sikapkebersamaan. Salah satu ciri utamanya sebagaimana yang digambarkan masyarakattradisional yaitu rasa hormat yang tinggi yang ditujukan oleh para anggota masyarakatkepada orang tua atau seseorang yang dituakan. Pemimpin seperti ini menunjukkanketauladan dan menjadi panutan di masyarakat. Biasanya tipe seperti ini dimiliki olehtokoh-tokoh adat, para ulama dan guru.3. Tipe Kharismatik Karakteristik yang khas dari tipe ini yaitu daya tariknya yang sangat memikat sehinggamampu memperoleh pengikut yang jumlahnya kadang-kadang sangat besar. Tegasnyaseorang pemimpin yang kharismatik adalah seseorang yang dikagumi oleh banyak  pengikut meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara konkretmengapa orang tersebut dikagumi.4. Tipe Laissez FairePemimpin ini berpandangan bahwa umumnya organisasi akan berjalan lancar dengansendirinya karena para anggota organisasi terdiri dari orang-orang yang sudah dewasayang mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi, sasaran-sasaran apa yang ingindicapai, tugas apa yang harus ditunaikan oleh masing-masing anggota dan pemimpintidak terlalu sering intervensi.5. Tipe Demokratik Pemimpin yang demokratik biasanya memperlakukan manusia dengan cara yangmanusiawi dan menjunjung harkat dan martabat manusia. Seorang pemimpin demokratik disegani bukannya ditakuti

Ciri-Ciri Seorang Pemimpin
Kebanyakan orang masih cenderung mengatakan bahwa pemimipin yang efektif mempunyai sifat atau ciri-ciri tertentu yang sangat penting misalnya, kharisma, pandangan ke depan, daya persuasi, dan intensitas. Dan memang, apabila kita berpikir tentang pemimpin yang heroik seperti Napoleon, Washington, Lincoln, Churcill, Sukarno, Jenderal Sudirman, dan sebagainya kita harus mengakui bahwa sifat-sifat seperti itu melekat pada diri mereka dan telah mereka manfaatkan untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan.
Kepemimpinan Yang Efektif
Barangkali pandangan pesimistis tentang keahlian-keahlian kepemimpinan ini telah menyebabkan munculnya ratusan buku yang membahas kepemimpinan.Terdapat nasihat tentang siapa yang harus ditiru (Attila the Hun), apa yang harus diraih (kedamaian jiwa), apa yang harus dipelajari (kegagalan), apa yang harus diperjuangkan (karisma), perlu tidaknya pendelegasian (kadang-kadang), perlu tidaknya berkolaborasi (mungkin), pemimpin-pemimpin rahasia Amerika (wanita), kualitas-kualitas pribadi dari kepemimpinan (integritas), bagaimana meraih kredibilitas (bisa dipercaya), bagaimana menjadi pemimipin yang otentik (temukan pemimpin dalam diri anda), dan sembilan hukum alam kepemimpinan (jangan tanya). Terdapat lebih dari 3000 buku yang judulnya mengandung kata pemimipin (leader). Bagaimana menjadi pemimpin yang efektif tidak perlu diulas oleh sebuah buku. Guru manajeman terkenal, Peter Drucker, menjawabnya hanya dengan beberapa kalimat: "pondasi dari kepemimpinan yang efektif adalah berpikir berdasar misi organisasi, mendefinisikannya dan menegakkannya, secara jelas dan nyata.

Teori-teori dalam Kepemimpinan
Kegiatan manusia secara bersama-sama selalu membutuhkan kepemimpinan.Untuk berbagai usaha dan kegiatannya diperlukan upaya yang terencana dansistematis dalam melatih dan mempersiapkan pemimpin baru. Oleh karena itu,banyak studi dan penelitian dilakukan orang untuk mempelajari masalahpemimpin dan kepemimpinan yang menghasilkan berbagai teori tentangkepemimpinan.
Teori kepemimpinan merupakan penggeneralisasian suatu seri perilakupemimpin dan konsep-konsep kepemimpinannya, dengan menonjolkan latarbelakang historis, sebab-sebab timbulnya kepemimpinan, persyaratanpemimpin, sifat utama pemimpin, tugas pokok dan fungsinya serta etikaprofesi kepemimpinan (Kartini Kartono, 1994: 27).
Teori kepemimpinan pada umumnya berusaha untuk memberikan penjelasandan interpretasi mengenai pemimpin dan kepemimpinan dengan mengemukakanbeberapa segi antara lain :
Latar belakang sejarah pemimpin dan kepemimpinan
Kepemimpinan muncul sejalan dengan peradaban manusia. Pemimpin dan
kepemimpinan selalu diperlukan dalam setiap masa.
Sebab-sebab munculnya pemimpin
Ada beberapa sebab seseorang menjadi pemimpin, antara lain:
a.Seseorang ditakdirkan lahir untuk menjadi pemimpin.
Seseorang menjadi pemimpin melalui usaha penyiapan dan pendidikan serta
didorong oleh kemauan sendiri
b.Seseorang menjadi pemimpin bila sejak lahir ia memiliki bakatkepemimpinan kemudian dikembangkan melalui pendidikan dan pengalamanserta sesuai dengan tuntutan lingkungan

Syarat-syarat kepemimpinan :
Konsepsi mengenai persyaratan kepemimpinan selalu dikaitkan dengan
kekuasaan, kewibawaan, dan kemampuan.
Tipe dan gaya kepemimpinan
Pemimpin mempunyai sifat, kebiasaan, temperamen, watak dan kepribadian
sendiri yang khas, sehingga tingkah laku dan gayanya berbeda dari orang lain.
Teori-teori dalam kepemimpinan pada umumnya menunjukkan perbedaankarena setiap teoritikus mempunyai segi penekanannya sendiri yang dipandangdari satu aspek tertentu.
Teori-teori dalam Kepemimpinan
1. Teori Sifat
Teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpinditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin itu.Atas dasar pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa untuk menjadi seorangpemimpin yang berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin.Dan kemampuan pribadi yang dimaksud adalah kualitas seseorang denganberbagai sifat, perangai atau ciri-ciri di dalamnya. Ciri-ciri ideal yang perludimiliki pemimpin menurut Sondang P Siagian (1994:75-76) adalah:
- pengetahuan umum yang luas, daya ingat yang kuat, rasionalitas,obyektivitas, pragmatisme, fleksibilitas, adaptabilitas, orientasi masa depan;- sifat inkuisitif, rasa tepat waktu, rasa kohesi yang tinggi, naluri relevansi,keteladanan, ketegasan, keberanian, sikap yang antisipatif, kesediaan menjadipendengar yang baik, kapasitas integratif;
- kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang, analitik, menentukan skalaprioritas, membedakan yang urgen dan yang penting, keterampilan mendidik,dan berkomunikasi secara efektif.
Walaupun teori sifat memiliki berbagai kelemahan (antara lain : terlalubersifat deskriptif, tidak selalu ada relevansi antara sifat yang dianggapunggul dengan efektivitas kepemimpinan) dan dianggap sebagai teori yangsudah kuno, namun apabila kita renungkan nilai-nilai moral dan akhlak yangterkandung didalamnya mengenai berbagai rumusan sifat, ciri atau perangaipemimpin; justru sangat diperlukan oleh kepemimpinan yang menerapkanprinsip keteladanan.

2. Teori Perilaku
Dasar pemikiran teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorangindividu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arahpencapaian tujuan. Dalam hal ini, pemimpin mempunyai deskripsi perilaku:
a. konsiderasi dan struktur inisiasi
Perilaku seorang pemimpin yang cenderung mementingkan bawahan memilikiciri ramah tamah,mau berkonsultasi, mendukung, membela, mendengarkan,menerima
usul
dan
memikirkan
kesejahteraan
bawahan
sertamemperlakukannya setingkat dirinya. Di samping itu terdapat pulakecenderungan perilaku pemimpin yang lebih mementingkan tugas organisasi.
b. berorientasi kepada bawahan dan produksi
perilaku pemimpin yang berorientasi kepada bawahan ditandai oleh penekananpada hubungan atasan-bawahan, perhatian pribadi pemimpin pada pemuasankebutuhan bawahan serta menerima perbedaan kepribadian, kemampuan danperilaku bawahan. Sedangkan perilaku pemimpin yang berorientasi padaproduksi memiliki kecenderungan penekanan pada segi teknis pekerjaan,pengutamaan penyelenggaraan dan penyelesaian tugas serta pencapaian tujuan.
Pada sisi lain, perilaku pemimpin menurut model leadership continuum padadasarnya ada dua yaitu berorientasi kepada pemimpin dan bawahan.Sedangkan berdasarkan model grafik kepemimpinan, perilaku setiap pemimpindapat diukur melalui dua dimensi yaitu perhatiannya terhadap hasil/tugas danterhadap bawahan/hubungan kerja.
Kecenderungan perilaku pemimpin pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan
dari masalah fungsi dan gaya kepemimpinan (JAF.Stoner, 1978:442-443)

3. Teori Situasional
Keberhasilan seorang pemimpin menurut teori situasional ditentukan oleh cirikepemimpinan dengan perilaku tertentu yang disesuaikan dengan tuntutansituasi kepemimpinan dan situasi organisasional yang dihadapi denganmemperhitungkan faktor waktu dan ruang. Faktor situasional yang

berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan tertentu menurut Sondang P.
Siagian (1994:129) adalah
* Jenis pekerjaan dan kompleksitas tugas;
* Bentuk dan sifat teknologi yang digunakan;
* Persepsi, sikap dan gaya kepemimpinan;
* Norma yang dianut kelompok;
* Rentang kendali;
* Ancaman dari luar organisasi;
* Tingkat stress;
* Iklim yang terdapat dalam organisasi.
Efektivitas kepemimpinan seseorang ditentukan oleh kemampuan “membaca”situasi yang dihadapi dan menyesuaikan gaya kepemimpinannya agar cocokdengan dan mampu memenuhi tuntutan situasi tersebut. Penyesuaian gayakepemimpinan dimaksud adalah kemampuan menentukan ciri kepemimpinandan perilaku tertentu karena tuntutan situasi tertentu.
Sehubungan dengan hal tersebut berkembanglah model-model kepemimpinan
berikut:
a. Model kontinuum Otokratik-Demokratik
Gaya dan perilaku kepemimpinan tertentu selain berhubungan dengan situasidan kondisi yang dihadapi, juga berkaitan dengan fungsi kepemimpinantertentu yang harus diselenggarakan. Contoh: dalam hal pengambilankeputusan, pemimpin bergaya otokratik akan mengambil keputusan sendiri,ciri kepemimpinan yang menonjol ketegasan disertai perilaku yangberorientasi pada penyelesaian tugas.Sedangkan pemimpin bergayademokratik akan mengajak bawahannya untuk berpartisipasi. Cirikepemimpinan yang menonjol di sini adalah menjadi pendengar yang baikdisertai perilaku memberikan perhatian pada kepentingan dan kebutuhanbawahan.

b. Model ” Interaksi Atasan-Bawahan” :
Menurut model ini, efektivitas kepemimpinan seseorang tergantung padainteraksi yang terjadi antara pemimpin dan bawahannya dan sejauhmanainteraksi tersebut mempengaruhi perilaku pemimpin yang bersangkutan.
Seorang akan menjadi pemimpin yang efektif, apabila:
* Hubungan atasan dan bawahan dikategorikan baik;
* Tugas yang harus dikerjakan bawahan disusun pada tingkat struktur yang
tinggi;
* Posisi kewenangan pemimpin tergolong kuat.
c. Model Situasional
Model ini menekankan bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang tergantungpada pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat untuk menghadapi situasitertentu dan tingkat kematangan jiwa bawahan. Dimensi kepemimpinan yangdigunakan dalam model ini adalah perilaku pemimpin yang berkaitan dengantugas kepemimpinannya dan hubungan atasan-bawahan. Berdasarkan dimensitersebut, gaya kepemimpinan yang dapat digunakan adalah
* Memberitahukan;
* Menjual;
* Mengajak bawahan berperan serta;
* Melakukan pendelegasian.

d. Model ” Jalan- Tujuan ”
Seorang pemimpin yang efektif menurut model ini adalah pemimpin yangmampu menunjukkan jalan yang dapat ditempuh bawahan. Salah satumekanisme untuk mewujudkan hal tersebut yaitu kejelasan tugas yang harusdilakukan bawahan dan perhatian pemimpin kepada kepentingan dankebutuhan bawahannya. Perilaku pemimpin berkaitan dengan hal tersebutharus merupakan faktor motivasional bagi bawahannya.
e. Model “Pimpinan-Peran serta Bawahan” :
Perhatian utama model ini adalah perilaku pemimpin dikaitkan dengan prosespengambilan keputusan. Perilaku pemimpin perlu disesuaikan dengan strukturtugas yang harus diselesaikan oleh bawahannya.
Salah satu syarat penting untuk paradigma tersebut adalah adanyaserangkaian ketentuan yang harus ditaati oleh bawahan dalam menentukanbentuk dan tingkat peran serta bawahan dalam pengambilan keputusan.Bentuk dan tingkat peran serta bawahan tersebut “didiktekan” oleh situasiyang dihadapi dan masalah yang ingin dipecahkan melalui proses pengambilankeputusan.



TEORI KEPEMIMPINAN KLASIK DAN TEORI KONTINGENSI
Kepemimpinan Menurut Teori Sifat (Trait Theory)
Studi-studi mengenai sifat-sifat/ciri-ciri mula-mula mencoba untukmengidentifikasi karakteristik-karakteristik fisik, ciri kepribadian, dankemampuan orang yang dipercaya sebagai pemimpin alami. Ratusan studitentang sifat/ciri telah dilakukan, namun sifat-sifat/ciri-ciri tersebut tidakmemiliki hubungan yang kuat dan konsisten dengan keberhasilankepemimpinan seseorang. Penelitian mengenai sifat/ciri tidak memperhatikanpertanyaan tentang bagaimana sifat/ciri itu berinteraksi sebagai suatu
integrator dari kepribadian dan perilaku atau bagaimana situasi menentukanrelevansi dari berbagai sifat/ciri dan kemampuan bagi keberhasilan seorangpemimpin.
Berbagai pendapat tentang sifat-sifat/ciri-ciri ideal bagi seorang pemimpintelah dibahas dalam kegiatan belajar ini termasuk tinjauan terhadapbeberapa sifat/ciri yang ideal tersebut.
Kepemimpinan Menurut Teori Perilaku (Behavioral Theory)
Selama tiga dekade, dimulai pada permulaan tahun 1950-an, penelitianmengenai perilaku pemimpin telah didominasi oleh suatu fokus pada sejumlahkecil aspek dari perilaku. Kebanyakan studi mengenai perilaku kepemimpinanselama periode tersebut menggunakan kuesioner untuk mengukur perilakuyang berorientasi pada tugas dan yang berorientasi pada hubungan. Beberapastudi telah dilakukan untuk melihat bagaimana perilaku tersebut dihubungkandengan kriteria tentang efektivitas kepemimpinan seperti kepuasan dankinerja bawahan. Peneliti-peneliti lainnya menggunakan eksperimenlaboratorium atau lapangan untuk menyelidiki bagaimana perilaku pemimpinmempengaruhi kepuasan dan kinerja bawahan. Jika kita cermati, satu-satunyapenemuan yang konsisten dan agak kuat dari teori perilaku ini adalah bahwapara pemimpin yang penuh perhatian mempunyai lebih banyak bawahan yang puas.
Hasil studi kepemimpinan Ohio State University menunjukkan bahwa perilakupemimpin pada dasarnya mengarah pada dua kategori yaitu consideration daninitiating structure. Hasil penelitian dari Michigan University menunjukkanbahwa perilaku pemimpin memiliki kecenderungan berorientasi kepadabawahan dan berorientasi pada produksi/hasil. Sementara itu, modelleadership continuum dan Likert’s Management Sistem menunjukkanbagaimana perilaku pemimpin terhadap bawahan dalam pembuatan keputusan.Pada sisi lain, managerial grid, yang sebenarnya menggambarkan secara grafikkriteria yang digunakan oleh Ohio State University dan orientasi yangdigunakan oleh Michigan University. Menurut teori ini, perilaku pemimpinpada dasarnya terdiri dari perilaku yang pusat perhatiannya kepada manusiadan perilaku yang pusat perhatiannya pada produksi.


Teori Kontingensi (Contigensy Theory)
Teori-teori kontingensi berasumsi bahwa berbagai pola perilaku pemimpin(atau ciri) dibutuhkan dalam berbagai situasi bagi efektivitas kepemimpinan.Teori Path-Goal tentang kepemimpinan meneliti bagaimana empat aspekperilaku pemimpin mempengaruhi kepuasan serta motivasi pengikut. Padaumumnya pemimpin memotivasi para pengikut dengan mempengaruhi persepsimereka tentang konsekuensi yang mungkin dari berbagai upaya. Bila parapengikut percaya bahwa hasil-hasil dapat diperoleh dengan usaha yang seriusdan bahwa usaha yang demikian akan berhasil, maka kemungkinan akanmelakukan usaha tersebut. Aspek-aspek situasi seperti sifat tugas,lingkungan kerja dan karakteristik pengikut menentukan tingkat keberhasilandari jenis perilaku kepemimpinan untuk memperbaiki kepuasan dan usaha parapengikut.
LPC Contingency Model dari Fiedler berhubungan dengan pengaruh yangmelunakkan dari tiga variabel situasional pada hubungan antara suatu ciripemimpin (LPC) dan kinerja pengikut. Menurut model ini, para pemimpin yangberskor LPC tinggi adalah lebih efektif untuk situasi-situasi yang secaramoderat menguntungkan, sedangkan para pemimpin dengan skor LPC rendahakan lebih menguntungkan baik pada situasi yang menguntungkan maupuntidak menguntungkan. Leader Member Exchange Theory menjelaskanbagaimana para pemimpin mengembangkan hubungan pertukaran dalam situasiyang berbeda dengan berbagai pengikut. Hersey and Blanchard SituasionalTheory lebih memusatkan perhatiannya pada para pengikut. Teori inimenekankan pada perilaku pemimpin dalam melaksanakan tugaskepemimpinannya dan hubungan pemimpin pengikut.
Leader Participation Model menggambarkan bagaimana perilaku pemimpindalam proses pengambilan keputusan dikaitkan dengan variabel situasi. Modelini menganalisis berbagai jenis situasi yang mungkin dihadapi seorangpemimpin dalam menjalankan tugas kepemimpinannya. Penekanannya padaperilaku kepemimpinan seseorang yang bersifat fleksibel sesuai dengankeadaan yang dihadapinya.

TEORI KEPEMIMPINAN KONTEMPORER
Teori Atribut Kepemimpinan

Teori atribusi kepemimpinan mengemukakan bahwa kepemimpinan semata-mata merupakan suatu atribusi yang dibuat orang atau seorang pemimpinmengenai individu-individu lain yang menjadi bawahannya.
Beberapa teori atribusi yang hingga saat ini masih diakui oleh banyak orang
yaitu:
Teori Penyimpulan Terkait (Correspondensi Inference), yakni perilaku orang
lain merupakan sumber informasi yang kaya.
Teori sumber perhatian dalam kesadaran (Conscious Attentional Resources)bahwa proses persepsi terjadi dalam kognisi orang yang melakukan persepsi(pengamatan).
Teori atribusi internal dan eksternal dikemukakan oleh Kelly & Micella, 1980
yaitu teori yang berfokus pada akal sehat.
Kepemimpinan Kharismatik
Karisma merupakan sebuah atribusi yang berasal dari proses interaktifantara pemimpin dan para pengikut. Atribut-atribut karisma antara lain rasapercaya diri, keyakinan yang kuat, sikap tenang, kemampuan berbicara danyang lebih penting adalah bahwa atribut-atribut dan visi pemimpin tersebutrelevan dengan kebutuhan para pengikut.
Berbagai teori tentang kepemimpinan karismatik telah dibahas dalamkegiatan belajar ini. Teori kepemimpinan karismatik dari House menekankankepada identifikasi pribadi, pembangkitan motivasi oleh pemimpin danpengaruh pemimpin terhadap tujuan- tujuan dan rasa percaya diri parapengikut. Teori atribusi tentang karisma lebih menekankan kepadaidentifikasi pribadi sebagai proses utama mempengaruhi dan internalisasisebagai proses sekunder. Teori konsep diri sendiri menekankan internalisasinilai, identifikasi sosial dan pengaruh pimpinan terhadap kemampuan diridengan hanya memberi peran yang sedikit terhadap identifikasi pribadi.Sementara itu, teori penularan sosial menjelaskan bahwa perilaku parapengikut dipengaruhi oleh pemimpin tersebut mungkin melalui identifikasipribadi dan para pengikut lainnya dipengaruhi melalui proses penularan sosial
Pada sisi lain, penjelasan psikoanalitis tentang karisma memberikan kejelasankepada kita bahwa pengaruh dari pemimpin berasal dari identifikasi pribadidengan pemimpin tersebut.
Karisma merupakan sebuah fenomena. Ada beberapa pendekatan yang dapatdigunakan oleh seorang pemimpin karismatik untuk merutinisasi karismawalaupun sukar untuk dilaksanakan. Kepemimpinan karismatik memiliki dampakpositif maupun negatif terhadap para pengikut dan organisasi.
Kepemimpinan Transformasional
Pemimpin pentransformasi (transforming leaders) mencoba menimbulkankesadaran para pengikut dengan mengarahkannya kepada cita-cita dan nilai-nilai moral yang lebih tinggi.
Burns dan Bass telah menjelaskan kepemimpinan transformasional dalamorganisasi dan membedakan kepemimpinan transformasional, karismatik dantransaksional. Pemimpin transformasional membuat para pengikut menjadilebih peka terhadap nilai dan pentingnya pekerjaan, mengaktifkan kebutuhan-kebutuhan pada tingkat yang lebih tinggi dan menyebabkan para pengikutlebih mementingkan organisasi. Hasilnya adalah para pengikut merasa adanyakepercayaan dan rasa hormat terhadap pemimpin tersebut, serta termotivasiuntuk melakukan sesuatu melebihi dari yang diharapkan darinya. Efek-efektransformasional dicapai dengan menggunakan karisma, kepemimpinaninspirasional, perhatian yang diindividualisasi serta stimulasi intelektual.
Hasil penelitian Bennis dan Nanus, Tichy dan Devanna telah memberikansuatu kejelasan tentang cara pemimpin transformasional mengubah budayadan strategi-strategi sebuah organisasi. Pada umumnya, para pemimpintransformasional memformulasikan sebuah visi, mengembangkan sebuahkomitmen terhadapnya, melaksanakan strategi-strategi untuk mencapai visitersebut, dan menanamkan nilai-nilai baru.




Referensi : http://www.scribd.com/doc/15885060/Teori-Kepemimpinan ,http://id.wikipedia.org/wiki/Kepemimpinan


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Laman

About this blog

Tinggalkan comment anda
terimakasih

Mengenai Saya

Foto Saya
my time has run out my time has gone I can not wait any longer because success can not be achieved with silence